Sugeng Rawuh

Selamat datang di sarana belajar yang ala kadarnya ini. semoga bisa menjadi media pembelajaran kita untuk terus belajar dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran dan pendidikan matematika.
knowledge is a power
information is liberating
education is the premise of progress, in every society, in every family

Jumat, 02 Oktober 2009

Write Your Story

Do you often write your daily activities in a diary? If the answer is ‘yes’, it means that you are getting closer to writing a short story. Once this habit has come into your mind, you have to preserve it. If it necessary, the pieces of your diary can be put together with appropriate editing, so it can be a comprehensive story.
However you can also use yourselves as the main character in that story. You can also add many friends to be the characters, either by using their real names or imaginative ones.
If you are really interested in writing it, this article will give you a brief description about a short story. Hopefully it can be your initial knowledge that inspires you to move further in actualizing your life in a good dramatic features.
A short story is relatively brief fictional narrative in prose. It may range in length from the ‘short-short story’ of 500 words up to the ‘long-short story’ of 12.000-15.000 words. A unique characteristic of a short story that makes it distinct from novel is it tends to reveal character through a series of actions or under stress. Generally , a short story consist of five elements, they are:
1. Character
A Character is a person or sometimes even an animal, who takes part in the action of a short story or other literary work
2. Setting
The setting of a short story is the time and place in which it happens. Authors often use descriptions of landscape, scenery, buildings, seasons or weather to provide a strong sense of setting
3. Plot
A plot is a series of events and character actions that relate to the central conflict.
4. Conflict
The conflict is a struggle between two people or things in a short story. The main character is usually on one side of the central conflict. On the other side, the main character may struggle against another important character, against the forces of nature, against society, or even against something inside himself or herself (feelings, emotions, illness, etc).
5. Theme
The theme is the central idea or belief in a short story.
After you have understood what actually a short story is, now it is your time to proceed. Do not be afraid about the quality of your writing. When you have finished your draft, ask your friends to read it and give you any inputs. After that, make appropriate revision.
Once you have written your own story, you will go beyond the real world of writing. It is time for you to always write whatever you do. Impose for yourselves that writing becomes the part of your life.
As one of literary works, short story also plays an important role in language teaching. Due its characteristics, a short story provides a clear context for all utterances used. This context is significant to help the readers in understanding the whole story as well as in understanding certain tense and aspect used in a given circumstances.
Therefore, using short story in understanding tense and aspect of English can give more benefits based on two main reasons. Firstly, short story provides the context in which a certain tense is used. Secondly, short story provides time indicators. The combination of context and time indicator represented by the chronological order in a short story will be influencing circumstances that boost students’ understanding about tense and aspect of English. In order to get the great advantages from using short story in understanding tense and aspect of English, the teacher should take some considerations as follow:
1. The selection of certain tense and aspect to be discussed / taught.
2. The level of students’ comprehension
3. The level of difficulty of the story
4. The size of the text.

Dasar Metodologi Penelitian Pendidikan

A. Metode Penelitian
Secara umum, metode penelitian terbagi menjadi dua yaitu Kuantitatif dan Kualitatif. Metode penelitian kuantiatif digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel. Sampel ditentukan secara random, sedangkan data dikumpulkan menggunakan instrumen dan dianalisis untuk membuktikan hipotesisnya. Hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada populasinya. Sedangkan metode kualitatif digunakan untuk meneliti kondisi obyek yang alamiah (tidak diperlakukan), peneliti sebagai instrumen kunci. Sampel ditetapkan secara purposive. Pengumpulan data dilaksanakan secara trianggulasi dan dianalisis secara induktif/kualitatif. Hasil penelitian lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Generalisasi pada penelitian kualitatif disebut transferability.
Berdasarkan karekteristik masalahnya, metode penelitian dapat dikategorikan menjadi sembilan, yaitu;
1. Historical
Tujuannya untuk merekonstruksi sesuatu secara tepat serta mempertahankan hipotesis yang sudah ada.
2. Deskriptif
Mendeskripsikan secara sistematis suatu situasi atau kondisi yang diinginkan secara tepat dan faktual
3. Pengembangan
Mencari atau meneliti suatu model dan pertumbuhan atau perubahannya dalam fungsi waktu
4. Studi Kasus
Meneliti secara intensif suatu latar belakang kejadian, kejadian itu sendiri, dan interaksi lingkungan dalam unit individu, kelompok, lembaga, dan komunitas.
5. Korelasi
Menyelidiki keluasan hubungan antara variabel satu dengan lainnya berdasarkan koefisien korelasinya.
6. Causal-comparative (ex post facto)
Menyelidiki kemungkinan hubungan antara sebab akibat , melalui observasi beberapa kondisi yang sudah ada sekarang serta kondisi di masa lalu sebagai faktor penyebabnya
7. True experimental
Menyelidiki hubungan sebab akibat dari suatu percobaan terhadap kelompok lain yang diperlakukan, dengan membandingkan hasilnya terhadap kelompok yang tidak diperlakukan.
8. Quasi experimental
Mendekati kondisi true experimental tanpa memperhatikan variabel kontrol dan atau manipulasi variabel yang relevan. Peneliti harus mengetahui dan melakukan kompromi terhadap internal dan eksternal validitas dari desain penelitiannya
9. Action
Mengembangkan suatu keterampilan baru atau pendekatan baru dalam memecahkan suatu masalah yang diterapkan secara langsung pada kelompok kelas pembelajaran atau kelompok lainnya
B. Masalah Penelitian
Masalah penelitian merupakan bagian penting yang menunjukkan mengapa penelitian ini diperlukan. Masalah penelitian dapat ditentukan berdasarkan kesenjangan (gap) antara kondisi yang nyata ada di lapangan dengan kondisi ideal atau seharusnya. Rumusan masalah perlu ditentukan setelah melihat masalah yang ada. Rumusan masalah akan menunjukkan bahwa penelitiannya fokus pada masalah yang sebenarnya.
Masalah pada penelitian kuantitaif sudah jelas, spesifik dan tidak berubah (tetap), sedangkan pada penelitian kualitatif masalahnya masing remang-remang (tidak tetap) dan bersifat sementara, sehingga dapat berkembang setelah peneliti berada di lapangan.
C. Variabel dan Paradigma / Desain Penelitian
Variabel merupakan segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, hasilnya berupa informasi yang menjadi dasar dari kesimpulan penelitiannya. Beberapa jenis variabel penelitian adalah ;
1. Variabel independen atau variabel bebas, merupakan variabel yang dapat mempengaruhi timbulnya suatu perubahan atau memunculkan variabel dependen.
2. Variabel dependen atau variabel terikat, merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat dari keberadaan variabel bebas.
3. Variabel moderator, merupakan variabel yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel independen dan dependen.
4. Variabel intervening, merupakan variabel secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independent dan dependen menjadi hubungan tidak langsung
5. Variabel kontrol, merupakan variabel yang dikendalikan agar tetap konstan sehingga hubungan variabel dependen dan independen tidak dipengaruhi oleh faktor luar.
Variabel yang tampak dalam penelitian perlu dikemas dalam bentuk paradigma atau desain penelitian. Paradigma penelitian akan menunjukkan alur hubungan antar variabel yang diteliti dan jumlah masalah yang harus dipecahkan.
- Paradigma sederhana, paradigma ini terdiri atas satu variabel dependen dan satu variabel independen. Rumusan masalahnya terdiri dari dua deskriptif dan satu asosiatif
- Paradigma sederhana berurutan, paradigma ini terdiri atas lebih dari satu variabel, akan tetapi hubungannya masih sederhana. Rumusan masalahnya sesuai dengan paradigma sederhana
- Paradigma ganda dengan dua variabel dependen, rumusan masalahnya tiga deskriptif dan empat masalah asosiatif
D. Landasan Teori
Landasan teori diperlukan sebagai pendukung untuk memecahkan masalah penelitian. Teori merupakan konsep, definisi, dan proposisi yang digunakan untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui hubungan antar variabel diperoleh informasi yang dapat menjelaskan dan meramalkan suatu fenomena. Landasan teori dibuat melalui review berbagai sumber informasi, tiga pertanyaan sebagai dasar membentuk teori adalah ;
 Dimana informasi tersebut ditemukan ?
 Apa yang kita kerjakan dari informasi yang sudah ditemukan ?
 Apa yang dapat dibuat dengan informasi tersebut ?
Menjawab pertanyaan pertama, informasi diperoleh dari berbagai sumber, buku, internet, microfilm dan sumber yang lain. Pertanyaan kedua mengharuskan kita memilih, merangkum isi informasi yang relevan dengan masalah penelitiannya. Pada pertanyaan ketiga, diharuskan membuat jastifikasi informasi yang telah dirangkum melalui berbagai hasil penelitian yang relevan dan dapat menjawab permasalahan penelitiannya.
Setelah menemukan berbagai teori yang mendukung pemecahan masalah, selanjutnya peneliti membuat kerangka berpikir atas dasar kajian teori yang telah ditentukan. Kerangka berpikir adalah konsep yang diutarakan dengan bahasanya sendiri berupa hubungan antara teori dengan berbagai faktor yang muncul dari permasalahan penelitian, serta pertautan antar variabel. Hasil dari kerangka berpikir merupakan hipotesis dari penelitian bervariabel dua atau lebih. Bila variabelnya tunggal atau lebih tetapi bersifat mandiri, diperlukan deskripsi dan penentuan besaran masing-masing variabelnya.
E. Sampel
Sampel penelitian adalah bagian dari suatu populasi yang mempunyai karakteristik tertentu. Melalui sampel, peneliti bermaksud menggeneralisasikan hasil penelitiannya pada populasi. Populasi merupakan wilayah generalisasi yang berupa obyek atau subyek (orang maupun benda alam lainnya) yang berkaitannya dengan jumlah dan karakteristiknya.
Pengambilan sampel terdiri atas dua cara sesuai tujuan penelitiannya, yaitu probability dan non probability . Pada probability, ada dua teknik yang digunakan, yaitu random selection dan random assignment. Sedangkan pada non probability ada beberapa teknik, antara lain sistematis, kuota, dan purposive.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitan digunakan untuk mengumpullkan data dan mengukur nilai variabel. Jumlah variabel yang terlibat dalam suatu peneliian menunjukkan jumlah instrumennya. Skala pengukuran yang digunakan pada suatu instrumen sangat tergantung pada desain penelitiannya. Beberapa skala pengukuran instrumen adalah, skala Likert, Gutman, rating scale, dan semantic deferential.
Instrumen penelitian dibuat berdasarkan hasil kerangka berpikir yang tertuang dalam bentuk kisi-kisi instrumen penelitian. Sebelum membuat kisi-kisi, terlebih dahulu harus dibuat definisi operasional setiap variabel sehingga memudahkan pengukurannya. Di dalam kisi-kisi terlihat variabel, indikator dan sub indikator bila diperlukan, serta jumlah pertanyaan. Jumlah pertanyaan dalam setiap instrumen harus disesuaikan dengan mempertimbangkan karakteristik sampelnya serta tujuan penelitiannya.
Instrumen penelitian belum dapat digunakan apabila belum diketahui validitas dan reabilitasnya. Validitas instrumen artinya instrumen dapat digunakan mengukur data dengan valid atau mengukur apa yang seharusnya diukur. Sedangkan reabilitas instrumen menunjukkan kepastian hasil yang sama meskipun sudah digunakan berulang kali.
G. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
Teknik pengumpulan data penelitian ditentukan berdasarkan kebutuhan informasi serta tujuan penelitiannya. Bila dikaitkan dengan sumber datanya, maka akan diperoleh data berdasarkan sumber data primer (langsung memberikan data) dan sekunder (tidak langsung). Teknik yang digunakan adalah interview (wawancara), kuesioner (angket), observasi (pengamatan), dan gabungan ketiganya.
Analisis data dimulai dengan mengelompokkan data berdasarkan variabelnya, tabulasi data, sajian data setiap variabel. Selanjutnya dilaksanakan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesisnya. Tenik analisis yang digunakan untuk penelitian kuantitatif adalah statistik deskriptif dan statistik inferensial.
Hasil analisis data hanya berbentuk angka-angka yang tidak dapat dimengerti kegunaannya apabila peneliti tidak terampil memaknai hasil analisisnya. Pemaknaan atau telaah hasil analisis data menjadi dasar untuk membahas hasil penelitian yang sesuai dengan rumusan masalahnya. Jawaban rumusan masalah tersebut dapat dijadikan informasi sebagai hasil temuan atau kesimpulan dari penelitiannya.
H. Penutup
Penggunaan metode penelitian yang benar akan memudahkan proses penelitiannya. Proses penelitian akan berlangsung dengan baik apabila peneliti memahami dan terampil melaksanakan kegiatan persiapan, pelaksanaan, serta pelaporan hasil penelitiannya.

PUSTAKA
Borg R Walter, 1989, Educational Research, New York: Longman
Isac Stephen, 1984, Handbookn in Research and Evaluation, San Diego: Edit Publisher
Sugiyono, 2006, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Alfabeta
Wiersma William, 1994, Research Methods in Education, Boston: Allyn Bacon Inc

Cinta Tapi Lebih Cinta

Di tengah diinginnya malam, sejenak sebelum kuterpejam dalam mimpi, terbuai oleh kekalahan konyol arsenal.. tiba-tiba kuteringat akan obrolan dengan seorang senior (sebuah istilah yang sangat aku benci). obroloan ngetan ngalor karo ngulon ngidul yang ga jelaz,sampe akhirnya terbawa dalam obrolan ringan tentang agama,,tanyaku dengan wajah bloon: sebetulnya orang seperti apa se yang di cintai oleh ALLAH?
Dengan senyum khas wajah tuanya (kata ini lebih easy listening nampaknya.haha) ia berkata: begini anak muda (???), ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa orang yang dicintai oleh ALLAH itu ada tiga golongan, yaitu ALLAH mencintai orang kaya yang gemar shodaqoh, namun ALLAH lebih mencintai orang miskin yang gemar shodaqoh; yang kedua ALLAH mencintai orang miskin yang sederhana, rendah hati namun ALLAh lebih mencintai orang kaya yang sederhana, rendah hati; yang ketiga ALLAH mencintai orang tua yang rajin ibadah namun ALLAH lebih mencintai pemuda yang rajin beribadah. paham kau anak muda???
ku hanya manggut manggut saja sebagai betuk pertanggungjawaban atas pertanyaan tadi,,,kemudian ku bertanya: terus siapa orang yang dibenci ALLAH??
jawabnya: orang yang dibenci oleh ALLAH yaitu ALLAH membenci orang kaya yang sombong, namun ALLAH lebih membenci orang miskin yang sombong; yang kedua ALLAH membenci orang miskin yang pelit namun ALLAh lebih mencintai orang kaya yang pelit, yang tidak mau menyumbang hartanya untuk jalan ALLAH; yang ketiga ALLAH membenci pemuda yang malas beribadah namun ALLAH lebih membenci orang tua, orang yang sudah berumur yang malas beribadah kepada_NYA.

uraian tadi membuat ku terdiam dan hanya bisa tersenyum seraya berkata: terimakasih untuk ilmunya..


menurut dirimu sendiri, kita termasuk golongan ynag mana ?? pemuda yang rajin ibadah?, sikaya yang sombong, si miskin yang sederhana, si tua yang malas beribadah, atau justru kita termasuk orang yang belum bisa menilai diri kita di posisi mana (sebuah ciri khas dari mentalitas rakyat indonesia) ??????


Semoga kita selalu mendapat pertolongan_NYA.Amiin...
NB: Maaf jika antara isi dan judul tidak ada "kesinambungan". memang sengaja kutulis ga nyambung, cos biasanya orang kalo mendengar kata 'cinta' pasti langsung tertarik, beda dengan ketika mendengar kata 'agama'.hahahahahahaha
Written about a month ago · Comment · Like / Unlike

Tak Ada Judul

tidak ada yang ingin kuungkapkan di note ini, ku cuma ingin mengisi waktuku sebelum menyelesaikan tugas apa yang sudah menjadi kewajibanku. namun setelah lama menimbang, mengingat hingga akhirnya ku memutuskan untuk menulis tentang bagaimana mahasiswa sekarang kebanyakan bersikap menghadapi masalah, how to solve the problem ?? banyak dari mereka kurang memiliki keinginan to solve the problem, hanya sekedar duduk manis ketika kuliah, datang untuk absen, berharap sang dosen tidak memberikan tugas...uh indah sekali jika kuliah setiap hari seperti itu.namun hal seperti itu justru yang mengekang pemikiran kita,kita tak akan perna maju jika kita tidak dipaksa. kita akan selalu tetap menjadi orang yang biasa,,bukan orang luar biasa yang memperjuangkan segala sesuatu dengan terkadang mencapai limit kemampuan yang dimilikinya. sebagian dari mereke akan merasa sangat terpuaskan ketika mampu menyelesaikan tugas disaat akhir,dan dengan senyum cerianya ia berkata:hehehe,,akhirnya selesai juga...kepuasan itulah yang ia rasakan. mereka tak perna mencoba menyelesaikan tugas disaat awal ketika tugas itu datang.padahal sudah jelas dinyatakan: "faida faroghta fansob,wa illa robbika farghob."..banyak hal lain yang bisa kita lakukan ketika kita sudah selesai menyelesaikan suatu hal. itulah yang dinamakan dengan kompetensi: menyelesaikan sesuatu ketika orang lain belum memiliki kemampuan untuk menyadarinya. kita tidak perna menjadi yang terbaik sebelum kita menyadari apa yang menjadi senjata kita untuk menghadapi semua masalah.

tidak hanya mahasiswa,samg dosen pun ada juga yang sperti itu,tak memiliki 4 kompetensi sebagai tenaga pendidik.datang hanya untuk mengajar, kuliah hanya sekedar untuk memenuhi jumlah pertemuan, tidak mampu berpikir kreatif untuk memancing mahasiswa berpikir kritis.
udah ah pusing juga mikir kata-katanya.tar mala dikira serius amat tulisannya.


ide menulis tulisan ini gara-gara ku memiliki seorang teman, dikala usianya 17 tahun ia sudah duduk kuliah di semester V universitas negeri sangat favorit sekaligus mahal di jogja. di kala teman seusianya baru duduk manis di semester I, ia sedang menyelesaikan skripsinya...
ku salut akan kemampuan akademikmu.

semoga bisa menginspirasi kita semua...amin.

Sejarah Kurikulum Matematika Sekolah

KURIKULUM MATEMATIKA SEKOLAH

Pengertian Matematika
Istilah matematika berasal dari bahasa latin yaitu manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Matematika dalam bahasa Belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan langsung dengan penalaran. Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagi akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten (tetap).
Tujuan umum pendidikan matematika adalah menolong murid dalam mempelajari objek matematika. Robert M.Gagne dalam Teori Gagne, mengklasifikasikan objek–objek matematika menjadi dua macam, yaitu direct object (objek langsung) dan indirect object (objek tidak langsung). Objek langsung matematika meliputi; fakta matematika, keterampilan matematika, konsep matematika dan prinsip matematika.
a. Fakta-fakta matematika adalah konvensi–konvensi (semufakatan) dalam matematika yang dimaksudkan untuk memperlancar pembicaraan di dalam matematika, seperti lambang–lambang, semufakatan bahwa garis bilangan yang horizontal, arah ke kanan menunjukan bilangan–bilangan yang semakin besar, sedangkan arah ke kiri menunjukan bilangan–bilangan semakin kecil. Dalam matematika fakta–fakta matematika merupakan sesuatu yang harus diterima, misalnya yang harus diterima begitu saja adalah lambang untuk bilangan lima adalah “5”, juga lambang “ +, - , x“ untuk operasi–operasi dalam matematika.
b. Keterampilan–keterampilan matematika adalah operasi–operasi dan prosedur dalam matematika, yang masing–masing adalah suatu proses untuk mencari suatu hasil tertentu. Contoh keterampilan dalam matematika adalah proses mencari turunan (derivatif) suatu fungsi, proses mencari akar persamaan kuadrat.
c. Konsep-konsep matematika adalah suatu ide abstrak yang memungkinkan orang untuk mengklasifikasikan apakah suatu objek tertentu merupakan suatu contoh atau bukan contoh dari ide abstrak tersebut. Suatu konsep dalam matematika disebut konsep matematika. Segitiga, persegipanjang, pertidaksamaan, bilangan asli semuanya merupakan konsep matematika.
d. Prinsip-Prinsip Matematika adalah suatu pernyataan yang bernilai benar, yang memuat dua konsep atau lebih dan menyatakan hubungan antara konsep–konsep tersebut. Contoh beberapa konsep matematika: Pada setiap segitiga sama kaki, kedua alasnya sama besar, pada setiap segitiga siku-siku, kuadrat panjang sisi miring sama dengan jumlah kuadrat panjang kedua sisi siku-siku.
Objek tidak langsung matematika meliputi; kemampuan berfikir logis, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan berfikir analitis, sikap positif terhadap matematika, ketelitian, ketekunan dan kedisiplinan.

Perjalanan Kurikulum Matematika
Suka atau tidak suka seseorang terhadap matematika, namun tidak dapat dihindari bahwa hidupnya akan senantiasa bertemu dengan matematika, entah itu dalam pembelajaran formal, non formal maupun dalam kehidupan praktis sehari-hari. Matematika merupakan alat bantu kehidupan dan pelayan bagi ilmu-ilmu yang lain, seperti fisika, kimia, biologi, astronomi, teknik, ekonomi, farmasi maupun matematika sendiri.
Mungkin diantara kita banyak yang bertanya bukankah saat ini sudah ada kalkulator dan komputer sehingga matematika sebagai alat bantu kehidupan menjadi berkurang? Memang benar, dengan kehadiran kedua alat tersebut banyak persoalan kehidupan yang awalnya mudah menjadi sulit, dan dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat. Namun perlu diketahui bahwa alat-alat tersebut pun juga menggunakan prinsip matematika. Tanpa adanya prinsip-prinsip dan konsep matematika kedua alat tersebut yaitu kalkulator dan komputer tidak mungkin ada. Begitu pentingnya matematika dalam kehidupan maka tidak aneh jika pembelajaran matematika mengalami perkembangan dan disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Bagaimanakah perkembangan pembelajaran matematika di dalam negeri?

Matematika tradisional
Setelah Indonesia terlepas dari penjajahan kolonial, pemerintah berbenah diri menyusun program pendidikan. Matematika diletakkan sebagai salah satu mata pelajaran wajib. Saat itu pembelajaran matematika lebih ditekankan pada ilmu hitung dan cara berhitung. Urutan-urutan materi seolah-olah telah menjadi konsensus masyarakat. Karena seolah-olah sudah menjadi konsensus maka ketika urutan dirubah sedikit saja protes dan penentangan dari masyarakat begitu kuat. Untuk pertama kali yang diperkenalkan kepada siswa adalah bilangan asli dan membilang, kemudian penjumlahan dengan jumlah kurang dari sepuluh, pengurangan yang selisihnya positif dan lain sebagainya.
Kekhasan lain dari pembelajaran matematika tradisional adalah bahwa pembelajaran lebih menekankan hafalan dari pada pengertian, menekankan bagaimana sesuatu itu dihitung bukan mengapa sesuatu itu dihitungnya demikian, lebih mengutamakan kepada melatih otak bukan kegunaan, bahasa/istilah dan simbol yang digunakan tidak jelas, urutan operasi harus diterima tanpa alasan, dan lain sebagainya.
Urutan operasi hitung pada era pembelajaran matematika tradisional adalah kali, bagi, tambah dan kurang. ,maksudnya bila ada soal dengan menggunakan operasi hitung maka perkalian harus didahulukan dimanapun letaknya baru kemudian pembagian, penjumlahan dan pengurangan. Urutan operasi ini mulai tahun 1974 sudah tidak dipandang kuat lagi banyak kasus yang dapat digunakan untuk menunjukkan kelemahan urutan tersebut.
Contoh
12:3 jawabanya adalah 4, dengan tanpa memberi tanda kurung , soal di atas ekuivalen dengan
9+3:3, berdasar urutan operasi yaitu bagi dulu baru jumlah dan hasilnya adalah 10. Perbedaan hasil inilah yang menjadi alasan bahwa urutan tersebut kurang kuat.
Sementara itu cabang matematka yang diberikan di sekolah menengah pertama adalah aljabar dan geometri bidang. Geometri ini diajarkan secara terpisah dengan geometri ruang selama tiga tahun. Sedangkan yang diberikan di sekolah menengah atas adalah aljabar, geometri ruang, goneometri, geometri lukis, dan sedikit geometri analitik bidang. Geometri ruang tidak diajarkan serempak dengan geometri ruang, geomerti lukis adalah ilmu yang kurang banyak diperlukan dalam kehidupan sehingga menjadi abstrak dikalangan siswa.

Pembelajaran Matematika Modern
Pengajaran matematika modern resminya dimulai setelah adanya kurikulum 1975. Model pembelajaran matematika modern ini muncul karena adanya kemajuan teknologi, di Amerika Serikat perasaan adanya kekurangan orang-orang yang mampu menangani sejata, rudal dan roket sangat sedikit, mendorong munculnya pembaharuan pembelajaran matematika. Selain itu penemuan-penemuan teori belajar mengajar oleh J. Piaget, W Brownell, J.P Guilford, J.S Bruner, Z.P Dienes, D.Ausubel, R.M Gagne dan lain-lain semakin memperkuat arus perubahan model pembelajaran matematika.
W Brownell mengemukakan bahwa belajar matematika harus merupakan belajar bermakna dan berpengertian. Teori ini sesuai dengan terori Gestalt yang muncul sekitar tahun 1930, dimana Gestalt menengaskan bahwa latihan hafal atau yang sering disebut drill adalah sangat penting dalam pengajaran namun diterapkan setalah tertanam pengertian pada siswa.
Dua hal tersebut di atas memperngaruhi perkembangan pembelajaran matematika dalam negeri, berbagai kelemahan seolah nampak jelas, pembelajaran kurang menekankan pada pengertian, kurang adanya kontinuitas, kurang merangsang anak untuk ingin tahu, dan lain sebagainya. Ditambah lagi masyarakat dihadapkan pada kemajuan teknologi. Akhirnya Pemerintah merancang program pembelajaran yang dapat menutupi kelemanahn-kelemahan tersebut, munculah kurikulum 1975 dimana matematika saat itu mempnyai karakteristik sebagai berikut ;
1. Memuat topik-topik dan pendekatan baru. Topik-topik baru yang muncul adalah himpunan, statistik dan probabilitas, relasi, sistem numerasi kuno, penulisan lambang bilangan non desimal.
2. Pembelajaran lebih menekankan pembelajaran bermakna dan berpengertian dari pada hafalan dan ketrampilan berhitung.
3. Program matematika sekolah dasar dan sekolah menengah lebih continue
4. Pengenalan penekanan pembelajaran pada struktur
5. Programnya dapat melayani kelompok anak-anak yang kemampuannya hetrogen.
6. Menggunakan bahasa yang lebih tepat.
7. Pusat pengajaran pada murid tidak pada guru.
8. Metode pembelajaran menggunakan meode menemukan, memecahkan masalah dan teknik diskusi.
9. Pengajaran matematika lebih hidup dan menarik.


Pembelajaran Matematika masa kini
Pembelajaran matematika masa kini adalah pembelajaran era 1980-an. Hal ini merupakan gerakan revolusi matematika kedua, walaupun tidak sedahsyat pada revolusi matematika pertama atau matematika modern. Revolusi ini diawali oleh kekhawatiran negara maju yang akan disusul oleh negara-negara terbelakang saat itu, seperti Jerman barat, Jepang, Korea, dan Taiwan. Pengajaran matematika ditandai oleh beberapa hal yaitu adanya kemajuan teknologi muthakir seperti kalkulator dan komputer.
Perkembangan matematika di luar negeri tersebut berpengaruh terhadap matematika dalam negeri. Di dalam negeri, tahun 1984 pemerintah melaunching kurikulum baru, yaitu kurikulum tahun 1984. Alasan dalam menerapkan kurikulum baru tersebut antara lain, adanya sarat materi, perbedaan kemajuan pendidikan antar daerah dari segi teknologi, adanya perbedaan kesenjangan antara program kurikulum di satu pihak dan pelaksana sekolah serta kebutuhan lapangan dipihak lain, belum sesuainya materi kurikulum dengan tarap kemampuan anak didik. Dan, CBSA (cara belajar siswa aktif) menjadi karakter yang begitu melekat erat dalam kurikulum tersebut.
Dalam kurikulum ini siswa di sekolah dasar diberi materi aritmatika sosial, sementara untuk siswa sekolah menengah atas diberi materi baru seperti komputer. Hal lain yang menjadi perhatian dalam kurikulum tersebut, adalah bahan bahan baru yang sesuai dengan tuntutan di lapangan, permainan geometri yang mampu mengaktifkan siswa juga disajikan dalam kurikulum ini.

Sementara itu langkah-langkah agar pelaksanaan kurikulum berhasil adalah melakukan hal-hal sebagai berikut;

1. Guru supaya meningkatkan profesinalisme
2. Dalam buku paket harus dimasukkan kegiatan yang menggunakan kalkulator dan computer
3. Sikronisasi dan kesinambungan pembelajaran dari sekolah dasar dan sekolah lanjutan
4. Pengevaluasian hasil pembelajaran
5. Prinsip CBSA di pelihara terus


Kurikulum Tahun 1994
Kegiatan matematika internasional begitu marak di tahun 90-an. walaupun hal itu bukan hal yang baru sebab tahun tahun sebelumnya kegiatan internasional seperti olimpiade matematika sudah berjalan beberapa kali. Sampai tahun 1977 saja sudah 19 kali diselenggarakan olimpiade matematika internasional. Saat itu Yugoslavia menjadi tuan rumah pelaksanaan olimpiade, dan yang berhasil mendulang medali adalah Amerika, Rusia, Inggris, Hongaria, dan Belanda.
Indonesia tidak ketinggalan dalam pentas olimpiade tersebut namun jarang mendulang medali. (tahun 2004 dalam olimpiade matematika di Athena, lewat perwakilan siswa SMU 1 Surakarta atas nama Nolang Hanani merebut medali). Keprihatinan tersebut diperparah dengan kondisi lulusan yang kurang siap dalam kancah kehidupan. Para lulusan kurang mampu dalam menyelsaikan problem-probelmke hidupan dan lain sebagainya. Dengan dasar inilah pemerintah berusaha mengembangkan kurikulum baru yang mampu membekali siswa berkaitan dengan problem-solving kehidupan. Lahirlah kurikulum tahun 1994.
Dalam kurikulm tahun 1994, pembelajaran matematika mempunyai karakter yang khas, struktur materi sudah disesuaikan dengan psikologi perkembangan anak, materi keahlian seperti komputer semakin mendalam, model-model pembelajaran matematika kehidupan disajikan dalam berbagai pokok bahasan. Intinya pembelajaran matematika saat itu mengedepankan tekstual materi namun tidak melupakan hal-hal kontekstual yang berkaitan dengan materi. Soal cerita menjadi sajian menarik disetiap akhir pokok bahasan, hal ini diberikan dengan pertimbangan agar siswa mampu menyelesaikan permasalahan kehidupan yang dihadapi sehari-hari.




Kurikulum taun 2004
Setelah beberapa dekade dan secara khusus sepuluh tahun berjalan dengan kurikulum 1994, pola-pola lama bahwa guru menerangkan konsep, guru memberikan contoh, murid secara individual mengerjakan latihan, murid mengerjakan soal-soal pekerjaan rumah hanya kegiatan rutin saja disekolah, sementara bagaimana keragaman pikiran siswa dan kemampuan siswa dalam mengungkapkan gagasannya kurang menjadi perhatian.
Para siswa umumnya belajar tanpa ada kesempatan untuk mengkomunikasikan gagasannya, mengembangkan kreatifitasnya. Jawaban soal seolah membatasi kreatifitas dari siswa karena jawaban benar seolah-lah hanya otoritas dari seorang guru. Pembelajaran seperti paparan di atas akhirnya hanya menghasilkan lulusan yang kurang terampil secara matematis dalam menyelesaikan persoalah-persoalan seharai-hari. Bahkan pembelajaran model di atas semakin memunculkan kesan kuat bahwa matematika pelajaran yang sulit dan tidak menarik.
Tahun 2004 pemerintah melaunching kurikulum baru dengan nama kurikulum berbasis kompetesi. Secara khusus model pembelajaran matematika dalam kurikulum tersebut mempunyai tujuan antara lain;
1. Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkankesamaan, perbedaan, konsistensi dan iskonsistensi
2. Mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.
3. Mengembangkan kemampuan memcahkan masalah
4. Mengembangkan kewmapuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan.

Sementara itu secara umum prinsip dasar dari kurikulum tersebut adalah bahwa setiap siswa mampu mempelajari apa saja hanya waktu yang membedakan mereka dalam ketuntasan belajar. Siswa tidak diperkenankan mengikuti pelajaran berikutnya sebelum menuntaskan pelajaran sebelumnya. Dengan demikian remedial-remedial akan seringa dijumpai terutama siswa yang sering tidak tuntas dalam belajarnya.



(disadur dari barbagai sumber)

Selasa, 01 September 2009

Pendekatan Pembelajaran Problem Posing

Problem posing merupakan istilah Bahasa Inggris, dalam Bahasa Indonesia adalah pembentukan masalah. Pembentukan soal atau pembentukan masalah mencakup dua macam kegiatan, yaitu:
1. Pembentukan soal baru atau pembentukan soal dari situasi atau dari pengalaman siswa
2. Pembentukan soal dari soal lain yang sudah ada.
Langkah-langkah pembelajaran menggunakan pendekatan problem posing menurut Budiasih dan Kartini dalam Budi Hartati adalah sebagai berikut:
1. Membuka kegiatan pembelajaran
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Menjelaskan materi pelajaran
4. Memberikan contoh soal
5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum jelas
6. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membentuk soal dan menyelesaikannya
7. Mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan
8. Membuat rangkuman berdasarkan kesimpulan yang dibuat siswa
9. Menutup kegiatan pembelajaran
Menurut Srini M. Iskandar dalam makalahnya yang dinukil oleh Budi Hartati, batasan mengenai pembentukan soal adalah sebagai berikut:
1. Perumusan ulang soal yang sudah ada dengan perubahan agar menjadi lebih sederhana dan mudah dipahami dalam rangka memecahkan soal yang rumit
2. Perumusan atau pembentukan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang telah diselesaikan dalam rangka mencari alternatif pemecahan yang lain
3. Perumusan atau pembentukan soal dari kondisi yang tersedia, baik dilakukan sebelum, ketika, atau sesudah penyelesaian soal.
Adapun kondisi dalam pembentukan soal, menurut Srini M. Iskandar dalam Budi Hartati dibagi menjadi tiga golongan yakni:
1. Kondisi bebas, yakni jika kondisi tersebut memberi kebebasan sepenuhnya kepada siswa untuk membentuk soal, karena siswa tidak diberi kondisi yang harus dipenuhi
2. Kondisi semi terstruktur, yakni jika siswa diberi suatu kondisi dengan menggunakan pengetahuan yang dimilikinya
3. Kondisi terstruktur, adalah jika kondisi yang digunakan berupa soal atau penyelesaian soal.
Menurut Terry Dash dalam Budi Hartati, penyusunan soal-soal baru dapat digali dari soal yang sudah ada. Artinya, soal yang sudah ada dapat menjadi bibit untuik soal baru dengan mengubah, menambah, atau mengganti satu atau lebih karakteristik soal yang terdahulu. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Change the numbers
Salah satu cara membuat soal dari soal yang sudah ada adalah dengan mengubah bilangan.
3. Change the operations
Cara lain membuat soal dari soal yang sudah tersedia adalah dengan mengubah operasi hitungnya.
Kemampuan siswa dalam membentuk soal dapat dikembangkan dengan cara guru memberikan beberapa contoh seperti berikut:
1. Membentuk soal dari soal yang sudah ada atau memperluas soal yang sudah ada
2. Menyusun soal dari suatu situasi, atau berdasarkan gambar di majalah atau surat kabar, atau membuat soal mengenai benda-benda konkret yang dapat dimanipulasi (dikutak-kutik)
3. Memberikan soal terbuka
4. Menyusun sejumlah soal yang mirip tetapi dengan taraf kesilitan yang bervariasi.
Kegiatan yang berkaitan dengan pembentukan soal, secara teknis yang dapat dilakukan adalah:
1. Siswa menyusun soal secara individu. Dalam penyusunan soal ini, hendaknya siswa tidak asal menyusun soal, akan tetapi juga mempersiapkan jawaban dari soal yang sedang disusunnya. Dengan kata lain, setelah siswa tersebut dapat membuat soal, maka dia juga dapat menyelesaikan soal tersebut.
2. Siswa menyusun soal. Soal yang telah tersusun tersebut kemudian diberikan kepada teman sekelasnya. Distribusi soal-soal yang telah tersusun tersebut dapat menggunakan cara penggeseran atau dengan cara bertukar dengan teman semeja. Artinya, distribusi soal tersebut secara individu.
3. Agar lebih bervariasi dan lebih menumbuhkan sikap aktif, interaktif, dan kretaif, maka dapat dibentuk kelompok-kelompok kecil untuk menyusun soal dan soal tersebut didistribusikan kepada kelompok lain untuk diselesaikan. Soal dari kelompok tersebut, diharapkan tingkat kesulitannya lebih tinggi dari soal yang disusun secara individu.
Pembelajaran dengan pendekatan problem posing tidak dapat dilepaskan dari kegiatan memecahkan masalah/soal, karena memecahkan masalah adalah salah satu unsur utama dalam pembelajaran matematika. Dalam problem posing, siswa diberi kegiatan untuk membuat/membentuk soal kemudian menyelesaikan/memecahkan soal tersebut sesuai dengan konsep atau materi yang telah dipelajari.
Persoalan yang harus dipecahkan oleh siswa datang siswa itu sendiri atau siswa yang lain dalam Pembelajaran menggunakan pendekatan problem posing. Jika menggunakan variasi lain, misal dengan dibuat kelompok-kelompok, maka soal-soal dapat berasal dari kelompok yang lain. Pemecahan masalah memacu fungsi otak anak, mengembangkan daya pikir secara kreatif untuk mengenali masalah, dan mencari alternatif pemecahannya.
Proses pemecahan masalah terletak pada diri pelajar, variabel dari luar hanya merupakan intruksi verbal yang bersifat membantu atau membimbing pelajar untuk memecahkan masalah. Memecahkan masalah dapat dipandang sebagai proses dimana pelajar menemukan kombinasi-kombinasi aturan yang telah dipelajarinya lebih dahulu kemudian menggunakannya untuk memecahkan masalah. Namun memecahkan masalah tidak hanya menerapkan aturan-aturan yang telah diketahui tetapi juga memperoleh pengetahuan baru.
Pendekatan problem posing ternyata sesuai dengan salah satu teori tentang berpikir matematis. Berpikir matematis terdiri atas beberapa komponen, yaitu:
1. Memahami masalah atau perkara (segala sesuatu yang dikerjakan dalam pelajaran matematika harus bermakna bagimu)
2. Berusaha keluar dari kemacetan yang ada (bilamana kamu mengalami kemacetan, kamu harus dapat menggunakan apa yang telah kamu ketahui untuk keluar dari kemacetan)
3. Menemukan kekeliruan yang ada (kamu harus dapat menemukan kekeliruan yang ada dalam jawaban soal, dalam langkah yang kamu gunakan, dan dalam berpikir)
4. Meminimumkan pembilangan (jika kamu melakukan hitungan, kamu harus sedikit mungkin menggunakan pembilangan)
5. Meminimumkan tulis-menulis dalam perhitungan
6. Gigih dalam mencari strategi pemecahan masalah (jika kamu menggunakan suatu strategi pemecahan masalah tidak menghasilkan jawaban, kamu harus mencari strategi lain. Jangan mudah putus asa)
7. Membentuk soal atau masalah (kamu harus mampu memperluas masalah dengan membentuk pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal).
Pembelajaran matematika melalui problem posing diharapkan merupakan pendekatan yang efektif, karena kegiatan tersebut sesuai dengan pola pikir matematis, dalam arti:
1. Pengembangan matematika sering terjadi dari kegiatan membentuk soal,
2. Membentuk soal merupakan salah satu tahap dalam berpikir matematis.
Pembelajaran matematika menggunakan pendekatan problem posing jika diperhatikan juga sesuai dengan pendepat Mel Silberman yang telah dikemukakan di atas. Semua potensi siswa (pendengaran, penglihatan, dan pemikiran/jalan berpikir) dilibatkan dalam pembelajaran menggunakan pendekatan ini, sehingga siswa diharapkan akan menguasai ilmu yang diserapnya.

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)

Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya. Dari pengertian ini, belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan, dan bukan suatu hasil atau tujuan. Sedangkan pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Seorang siswa dinilai telah berhasil dalam proses pembelajaran jika setelah selesai mengikuti proses pembelajaran di kelas, ia yang asalnya tidak tahu kemudian menjadi tahu serta dapat menggunakan konsep, teorema, maupun ketrampilan. Konteks penguasaan dan penggunaan di sini adalah bidang studi matematika.
Pembelajaran juga diartikan suatu proses untuk membuat orang belajar atau aktifitas guru untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan proses belajar siswa berlangsung optimal, dapat dikatakan bahwa pembelajaran adalah aktifitas yang disengaja untuk memodifikasi berbagai kondisi yang diarahkan demi tercapainya tujuan mental. Menurut Cagne dan Biggs dalam Tengku Zahara Djafaar, pembelajaran adalah rangkaian peristiwa atau kejadian yang mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga proses belajarnya dapat berlangsung mudah. Sebagai bagian dari sistem, sasaran pembelajaran adalah mengubah masukan yang berupa siswa yang belum terdidik menjadi siswa yang terdidik.
Pembelajaran matematika sebagai suatu proses mengkondisikan siswa dalam belajar matematika membutuhkan suatu desain pembelajaran yang dapat mengoptimalkan siswa dalam belajar matematika. Pentingnya belajar matematika tidak lepas dari peran matematika dalam segala jenis dimensi kehidupan, misalnya dalam kehidupan ini yang memerlukan logika untuk sebuah jalan pemikiran tidak terlepas dari matematika yakni silogisme dan pokok bahasan yang lain. Selain hal tersebut, banyak persoalan kehidupan yang memerlukan kemampuan menghitung dan mengukur. Hal itu menunjukan pentingnya fungsi matematika, terutama sebagai sarana memecahkan masalah.
Pembelajaran aktif adalah pembelajaran dengan siswa yang lebih berpartisipasi aktif sedemikian sehingga kegiatan siswa dalam belajar jauh lebih dominan dari pada guru dalam mengajar. Proses pembelajaran aktif ini menuntut peserta didik mengalami keterlibatan intelektual-emosional, disamping keterlibatan fisiknya.. Keaktifan tersebut dapat berbentuk pemusatan perhatian apa yang dijelaskan oleh guru yang disertai penerapan dalam bentuk penyelesaian soal-soal.
Mel Silberman mengemukakan pernyataan yang disebut paham belajar aktif hasil modifikasi dari pernyataan Conficius. Pernyataan tersebut adalah: “What I hear, I forget; What I hear and see, I remember a little; What I hear, see, and ask question about or discuss with someone else, I begin to understand; What I hear, see, discuss, and do, I acquire knowledge and skill; What I teach to another, I master (Apa yang saya dengar, saya lupa; Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit; Apa yang saya dengar, lihat, dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman, saya mulai paham; Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan, dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan; Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya menguasainya).
Piaget dan Glaserveld dalam Winarno menuturkan bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari otak guru ke otak siswa. Pengetahuan dapat diperoleh dengan adanya upaya siswa sendiri untuk mengorganisasikan pengalaman barunya dengan pengetahuan yang sudah ada dalam kerangka kognitifnya. Piagiet, Bruner, dan Vigotsky menjelaskan lebih lanjut bahwa agar terjadi proses belajar pada siswa maka siswa harus melakukan kegiatan fisik dengan benda konkret sambil melakukan kegiatan mental dalam kelompok-kelompok. Kegiatan ini misalnya mengerjakan soal dengan menggunakan kertas dan pensil, membuat soal yang relevan dengan pelajaran yang sedang diterima/diajarkan, melakukan permainan matematika/rekreasi metematika, melaksanakan tugas dalam kelompok dan lain sebagainya.
Proses pembelajaran harus dimulai dari pengetahuan yang sudah ada dalam pikiran siswa atau yang mudah ditangkap dan dimengerti oleh siswa. Hal ini sesui dengan karakteristik mata pelajaran matematika yakni:
1. Materi matematika disusun menurut urutan tertentu atau tiap topik matematika berdasarkan subtopik tertentu,
2. Seorang siswa dapat memahami suatu topik matematika jika ia telah memahami subtopik pendukung atau prasyaratnya,
3. Perbedaan kemampuan antar siswa dalam mempelajari atau memahami suatu topik matematika dan dalam menyelesaikan masalahnya ditentukan oleh perbedaan penguasaan subtopik prasyaratnya,
4. Penguasaan topik baru oleh seorang siswa tergantung pada penguasaan topik sebelumnya. Bahan pelajaran hendaknya disajikan sedikit demi sedikit seraya memberikan kesempatan kepada siswa untuk meamahami, mencoba, bertanya, maupun berdiskusi. Penyajian bahan harus dimulai dari mudah ke sukar, sederhana ke rumit, konkret ke abstrak, yang diketahui ke yang belum diketahui, khusus ke umum, dan yang diamati ke penalaran.
Mc. Keachie yang dikutip oleh Winanrno mamaparkan kadar keaktifan yang mencakup tujuh hal, yaitu:
1. Partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan pembelajaran
2. Tekanan pada afektif dalam pembelajaran
3. Partisipasi siswa dalam pelaksanaan pembelajaran, terutama interaksi antar siswa
4. Penerimaan guru terhadap perbuatan atau kontribusi siswa yang kurang relevan bahkan salah sama sekali
5. Kekohensifan kelas sebagai kelompok
6. Kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan-keputusan penting dalam kehidupan sekolah
7. Jumlah waktu yang dipergunakan untuk menanggulangi masalah pribadi siswa baik yang berhubungan ataupun tidak berhubungan dengan mata pelajaran.
John Holt yang telah dikutip oleh Mel Silberman berpendapat bahwa belajar akan semakin baik jika siswa diminta untuk melakukan hal-hal berikut:
1. Mengungkapkan informasi dengan bahasa mereka sendiri
2. Memberikan contoh-contoh
3. Mengenalkan dalam berbagai samaran dan kondisi
4. Melihat hubungan antara suatu fakta atau gagasan dengan yang lain
5. Menggunakan dengan berbagai cara
6. Memperkirakan beberapa konsekuensinya
7. Mengungkapkan lawan atau sebaliknya.
Uraian di atas dapat mengklasifikasikan pembelajaran yang aktif meliputi segi siswa dan guru. Jika dipandang dari segi siswa, maka pembelajaran aktif adalah proses kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka belajar, sedangkan jika dipandang dari sudut guru atau fasilitator, maka pembelajaran aktif merupakan strategi belajar yang dirancang sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran yang dilaksanakan menuntut aktifitas dari siswa yang dilakukannya secara aktif. Secara umum, dalam pembelajaran aktif ini guru dituntut memantau kegiatan belajar siswa, memberi umpan balik, mengajukan pertanyaan yang menantang, dan mempertanyakan gagasan siswa. Sedang siswa aktif dalam bertanya, mengemukakan gagasan, dan mempertanyakan gagasan orang lain dan gagasannya. Hubungan tersebut (antar siswa yang aktif, atau siswa aktif dengan guru) juga dapat dikatakan bahwa pembelajaran yang dilakukan adalah pembelajaran interaktif yang maknanya bahwa dalam pembelajaran bukan salah satu pihak saja yang aktif dan pihak lain pasif, tetapi kesemuanya aktif dan menghasilkan kondisi yang kondusif untuk suatu pembelajaran.
Adanya teori pembelajaran aktif menggugah ide-ide menuju pembelajaran aktif tersebut. Bukan hanya siswa saja yang dituntut kreatif dan aktif dalam pembelajaran, guru pun dituntut demikian. Guru dengan kekreatifannya sedapat mungkin bisa mengembangkan kegiatan yang beragam untuk menghindari siswa jenuh. Usaha tersebut misal dengan diskusi, tanya jawab, pemberian tugas, demonstrasi, dan lain sebagainya yang dapat menumbuhkan interaksi dinamis antara siswa-siswa, siswa-guru, siswa-lingkungan belajar (bahan, alat, dan sebagainya). Demikian pula dengan alat bantu, guru dapat membuat alat bantu belajar yang sederhana dengan pertimbangan penggunaan alat bantu tersebut mendorong keaktifan siswa dan akan membantu siswa dalam memahami suatu konsep yang diajarkan. Guru juga dituntut untuk mengembangkan media yang digunakan, misalnya dengan lembar kerja siswa (LKS), multi media, dan lain sebagainya.
Pembelajaran yang efektif adalah apabila hasil belajar yang diperoleh siswa maksimal. Untuk mengukur kemaksimalan faktor-faktor pembelajaran dimaksud, Suharsimi Arikunto memberikan instrumen yang harus dijawab, yakni sebagai berikut:
1. Apakah selama belajar siswa sudah benar-benar aktif mengolah ilmu yang diperoleh?
2. Apakah guru sudah dengan tepat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengolah sendiri ilmu yang diperoleh siswa?
3. Apakah sarana belajar sudah digunakan secara maksimal untuk membantu proses pembelajaran?
4. Apakah biaya, waktu, dan tenaga yang digunakan untuk pembelajaran cukup hemat?
5. Apakah kualitas hasil yang diperoleh siswa sesudah peristiwa pembelajaran dapat dikatakan cukup tinggi?
Jika kelima jawaban pertanyaan tersebut "ya", maka pembelajaran yang dilakukan dapat dikatakan efektif dan efisien. Namun jika belum, perlu dibenahi agar pembelajaran yang dilakukan efektif.
Pendapat Rogers yang dikutip Mudjiono Dimyati mengemukakan pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, diantaranya:
1. Belajar yang optimal akan terjadi bila siswa berpartisipasi secara bertanggungjawab dalam proses belajar
2. Belajar mengalami (experiental learning) dapat terjadi bila siswa mengevaluasi dirinya sendiri. Belajar mengalami dapat memberi peluang untuk belajar kreatif, self evaluation (kritik diri). Hal ini berarti bahwa evaluasi dari instruktur bersifat sekunder
3. Belajar mengalami menuntut keterlibatan secara penuh dan sunggug-sungguh.
Kalangan peneliti berpendapat bahwa pembelajaran aktif merupakan pembelajaran yang efektif atau merupakan syarat bagi pembelajaran yang efektif. Oleh karena itu, kebanyakan penelitian belakangan tentang pembelajaran efektif untuk matematika berpusat pada pengajaran yang meningkatkan keaktifan siswa. Jadi pada prinsipnya, agar pembelajaran yang dilakukan efektif, pembelajaran perlu dilakukan tanpa atau dengan sedikit saja waktu yang digunakan untuk ceramah. Sebagaian besar waktu pembelajaran digunakan untuk kegiatan intelektual dan emosional siswa, untuk pemantauan kesiapan siswa, dan untuk memeriksa pamahaman siswa.
Kanold mengemukakan resep pembelajaran yang efektif meliputi perencanaan, penyajian, dan cara mengakhiri pertemuan.
1. Perencanaan
a. Memulai pertemuan dengan tinjauan singkat atau masalah yang membuka selera
b. Memulai pelajaran dengan pemberitahuan tujuan dan alasan secara singkat
c. Menyajikan bahan pelajaran baru sedikit demi sedikit dan di antara bagian-bagian penyajian yang sedikit itu memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami, mencoba, bertanya, diskusi, dan lain sebagainya
d. Memberikan petunjuk yang rinci untuk setiap tugas bagi siswa
e. Memeriksa pemahaman siswa dengan jalan mengajukan banyak pertanyaan dan memberikan latihan yang cukup banyak
f. Membolehkan siswa bekerja sama sampai tingkat siswa dapat mengerjakan tugas secara mandiri.
2. Penyajian
a. Pemeriksaan pemahaman siswa dilakukan dengan pemberian tugas kepada siswa. Guru memberikan penjelasan pembuka jalan, kemudian siswa menyelesaikan tugas itu. Guru berkeliling memeriksa hasil pembelajaran dan memberi bantuan jika ada siswa yang kesulitan. Siswa membuat ringkasan proses atau langkah-langkah penyelesaian tersebut
b. Pertanyaan menggunakan teknik bertanya yang efektif
c. Pada pembelajaran tentang konsep atau prosedur, siswa mengerjakan latihan terbimbing. Guru membimbing dengan menugasi siswa bekerja berkelompok kecil atau berpasangan untuk merumuskan jawaban atas latihan itu, menyelidiki pola yang mungkin ada, dan menyusun strategi yang diperlukan dalam mengerjakan latihan itu.
3. Penutup Pertemuan
Pertemuan ditutup tepat waktu
a. Jika sisa waktu tinggal sedikit, digunakan untuk membuat ringkasan dari pelajaran yang baru saja selesai
b. Jika sisa waktu agak banyak, digunakan untuk membicarakan langkah awal dari penyelesaian tugas rumah (PR).
Muara dari pembelajaran aktif, kreatif, dan efektif tersebut diharapkan dapat menghadirkan suasana pembelajaran matematika yang menyenangkan, terutama bagi siswa. Dengan demikian, siswa akan lebih mudah menangkap pelajaran karena suasana dalam diri maupun di luar dirinya mendukung. Pembelajaran menyenangkan adalah pembelajaran yang membuat siswa nyaman, aman, dan tenang hatinya tidak ada ketakutan (dicemooh, dilecehkan) dalam mengaktualisasikan kemampuan dirinya.
Pembelajaran yang menyenangkan ini dapat ditinjau dari dua segi, yakni segi siswa dan segi guru.
1. Segi Siswa
1. Siswa berani mencoba dan berbuat
2. Siswa berani bertanya
3. Siswa berani mengemukakan pendapat
4. Siswa berani mempertanyakan gagasan orang lain.
2. Segi Guru
Tidak membuat siswa takut salah, takut ditertawakan, dan takut disepelekan.